Sinyal Bahaya APBN! Rasio Utang RI Lampaui Batas Aman IMF, Ekonom Ingatkan Risiko Gagal Bayar?

Sinyal Bahaya APBN! Rasio Utang RI Lampaui Batas Aman IMF, Ekonom Ingatkan Risiko Gagal Bayar?   Get SindoNews App Baca berita lebih mudah Scan QR Code untuk download aplikasi: Log in     Home Makro Bursa Finansial Sektor Riil Indeks Home Makro Bursa Finansial Sektor Riil Indeks   Log in     Kanal Beranda Nasional Internasional Daerah Lifestyle Sports Ekonomi Bisnis Teknologi Otomotif Edukasi Kalam Multimedia SINDOnews TV Indeks Today’s HI-LITE More SindoScope More Live TV RCTI GTV MNC TV iNews Radio Live MNC Trijaya Global Radio V Radio RDI MNC Networks RCTI+ Vision+ MotionPay Motion Life Motion Trade Motion Banking Mister Aladin Home Makro Sinyal Bahaya APBN! Rasio Utang RI Lampaui Batas Aman IMF, Ekonom Ingatkan Risiko Gagal Bayar? Anggie Ariesta Kamis, 19 Maret 2026 – 10:27 WIBloading… Di balik klaim pemerintah bahwa kondisi fiskal Indonesia masih terjaga, sebuah peringatan keras muncul menyoroti risiko beban utang yang kian berat, dan sudah memasuki zona merah. Foto/Dok A A A JAKARTA – Di balik klaim pemerintah bahwa kondisi fiskal Indonesia masih terjaga, sebuah peringatan keras muncul dari pengamat ekonomi Bright Institute, Awalil Rizky. Ia menyoroti risiko beban utang negara yang kian berat, dan sudah memasuki zona merah dan melampaui ambang batas aman yang direkomendasikan Lembaga Moneter Internasional (IMF).Awalil menekankan, bahwa masyarakat dan pembuat kebijakan tidak boleh lagi hanya terpaku pada Debt to GDP Ratio (rasio utang terhadap PDB). Indikator yang lebih krusial saat ini adalah Debt Service Ratio (DSR), yakni seberapa besar pendapatan negara yang habis hanya untuk membayar cicilan pokok dan bunga utang.Berdasarkan analisis terbaru per Kamis (19/3/2026), beban bunga utang Indonesia pada tahun 2025 telah menyerap 18,66% dari total pendapatan negara. Angka ini dua kali lipat lebih tinggi dari batas aman yang disarankan IMF.Baca Juga: Purbaya: Pilihan Sekarang Tambah Utang atau Kembali ke Krisis 1998 “Rekomendasi yang bisa diartikan sebagai batas aman adalah 7-10%. Namun kita sudah di angka 18 persen lebih. Ini alasan mengapa lembaga pemeringkat seperti Fitch Ratings merevisi prospek kredit Indonesia menjadi negatif,” ungkap Awalil.Jika menghitung beban utang secara total (debt service) yakni pelunasan pokok ditambah pembayaran bunga, angkanya mencapai Rp1.314 triliun pada 2025. Hal ini membuat DSR Indonesia berada di level 47,46%, jauh di atas ambang rekomendasi IMF yang berada di kisaran 25-35%.Memasuki tahun 2026, tantangan fiskal diprediksi semakin curam. Awalil memaparkan, bahwa Anggaran Pendapatan Belanja Negara atau APBN 2026 disusun berdasarkan asumsi pertengahan 2025 yang kini tampak kurang realistis, terutama setelah pecahnya perang di Timur Tengah. Halaman :12 Lihat Juga : Gaji Pejabat RI Bakal Dipotong demi Efisiensi, Purbaya: Setuju! Itu Bagus, Sudah Kegedean Purbaya Matangkan Skenario Efisiensi, Anggaran Kementerian Dipotong Besar-besaran Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari Follow Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga! apbn kondisi fiskal beban utang negara gagal bayar utang Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya Berita Terkait Gaji Pejabat RI Bakal Dipotong demi Efisiensi, Purbaya: Setuju! Itu Bagus, Sudah Kegedean Purbaya Matangkan Skenario Efisiensi, Anggaran Kementerian Dipotong Besar-besaran Purbaya hingga Airlangga Dipanggil ke Istana Jelang Lebaran 2026, Bahas Efisiensi Anggaran? Harga Minyak Bisa Tembus USD100 per Barel, Bahlil Sebut Masih Dalam Koridor APBN Serukan Efisiensi APBN, Pemerintah Tak Utak-Atik Anggaran MBG Anggaran MBG Bakal Dipotong di Tengah Ancaman Ledakan Defisit APBN, Kepala BGN Buka Suara Menelisik Dampak Perang terhadap Stabilitas APBN Harga Minyak Naik, Nalar Fiskal Jangan Turun APBN Pernah Jebol Nyaris Rp1.000 Triliun, Ini 6 Defisit Terbesar Sepanjang Sejarah Indonesia Rekomendasi Temani Libur Lebaran, Ini Microdrama RCTI+ yang Ceritanya Bikin Ketagihan Bertemu Selama 2 Jam, Megawati dan Prabowo Bahas Isu Geopolitik Pelindo Regional 2 Sukses Layani 119 Ribu Penumpang di H-2 Lebaran Selengkapnya Jokowi Bakal Rayakan Idulfitri 1447 H di Jakarta Macet 3 Km, Lingkar Gentong Kembali Berlakukan One Way Jalur Pantura Cirebon Arah Jateng Didominasi Pemudik Motor Berita Terkini Selengkapnya Intip Rahasia SPPG di Sumba dan Tasikmalaya, Jaga Standar Tinggi Dorong Pertanian Lokal PLN Pastikan Listrik-SPKLU Aman saat Malam Takbir dan Lebaran di Titil Vital Rapor Hijau InJourney Airports: Soetta Melesat ke Posisi 22, Bali Kokoh di Peringkat 67 Dunia Mendorong Pemerintah Perkuat Diplomasi untuk Hadapi Hambatan Non-Tarif ke Pasar UE Gaji Pejabat RI Bakal Dipotong demi Efisiensi, Purbaya: Setuju! Itu Bagus, Sudah Kegedean Wafat di Singapura, Berikut Update Rencana Persemayaman Pemilik Grup Djarum Michael Bambang Hartono Selengkapnya Rihlah Mudik, Merawat Tradisi Anak-anak Dilarang Main Medsos, Efektifkah? Terpopuler 1 Ketiga Kalinya, Para Ahli Tak Melihat Perbaikan Ekonomi Indonesia 2 Profil dan Biografi Michael Bambang Hartono: Orang Terkaya ke-4 RI yang Hobi Jajan di Pinggir Jalan 3 Berita Duka! Bos Group Djarum Michael Bambang Hartono Meninggal Dunia 4 Surplus Beras 13%, Indonesia Buka Keran Ekspor ke Arab Saudi dan Papua Nugini 5 Buntut Perang Iran vs AS-Israel, BGN Siap-siap Efisiensi Anggaran MBG Infografis 4 Fakta Utang RI Rp6.000 Triliun Bisa Segera Dilunasi Shares Selengkapnya Kanal Nasional Daerah Lifestyle Ekonomi Bisnis Teknologi Edukasi Multimedia   Internasional Sports Otomotif Kalam Hi-Lite Sindoscope MNC Portal Okezone.com iNews.id IDX Channel About Us Tentang Kami Redaksi Privacy Policy Kode Etik Sitemap Disclaimer Term of Service Kontak Kami Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *