Rupiah Diproyeksi Bisa Tembus Rp20 Ribu per Dolar AS Imbas Perang Timur Tengah

Rupiah Diproyeksi Bisa Tembus Rp20 Ribu per Dolar AS Imbas Perang Timur Tengah Scan this QR or download app from: @Username Username Kelengkapan data diri 0% Bantu kami untuk merekomendasikan konten dengan melengkapi data diri AndaDisini Dashboard Log out Log in Home News Economics Market News Technology Banking Syariah Ramadan Lainnya TV IDX Live Milenomic Inspirator Infografis Foto Video Ecotainment Economia Calendar Laporan Keuangan Perusahaan Tercatat Regulasi IDXC LIVE More news: Lihat Data Pasar Advertisement IDX Channel Market news Rupiah Diproyeksi Bisa Tembus Rp20 Ribu per Dolar AS Imbas Perang Timur Tengah Market news Tangguh Yudha 23/03/2026 20:05 WIB Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai berada dalam kondisi rentan dan berpotensi melemah hingga Rp20.400 per dolar AS. Rupiah Diproyeksi Bisa Tembus Rp20 Ribu per Dolar AS Imbas Perang Timur Tengah. Foto: iNews Media Group. A A A IDXChannel – Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS dinilai berada dalam kondisi rentan dan berpotensi melemah hingga Rp20.400 per dolar AS dalam beberapa bulan ke depan.  Managing Director Political Economy and Policy Studies, Anthony Budiawan, menilai pelemahan tersebut bukan sekadar kemungkinan spekulatif, melainkan didasarkan pada pola historis tekanan terhadap rupiah dalam satu dekade terakhir. Baca Juga: Konflik Timur Tengah Kian Panas, Dolar Berbalik Menguat di Awal Pekan Anthony mengatakan narasi bahwa ekonomi Indonesia kuat karena ditopang cadangan devisa besar tidak sepenuhnya mencerminkan kondisi fundamental yang sebenarnya.  Menurutnya, sektor fiskal, moneter, dan nilai tukar Indonesia masih rapuh serta sangat sensitif terhadap guncangan eksternal, terutama dinamika geopolitik global. Baca Juga: 40 Aset Kilang Rusak di Timur Tengah, IEA Wanti-wanti Krisis Energi Global “Ekonomi Indonesia sangat rentan terhadap guncangan eksternal, terutama geopolitik. Konflik di Iran berpotensi mengganggu pasokan minyak dan gas global beserta turunannya, dengan implikasi serius terhadap ekonomi dunia, termasuk Indonesia,” ujar Anthony dalam keterangannya, Senin (23/3/2026). Dia menilai, meskipun cadangan devisa Indonesia besar, tetapi terisi gelembung akumulasi utang luar negeri, terutama oleh pemerintah dan Bank Indonesia (BI).  Baca Juga: Iran Akan Serang Lokasi Energi di Timur Tengah Jika AS-Israel Targetkan Pembangkit Listrik Anthony menilai, utang luar negeri tidak sepenuhnya digunakan untuk kegiatan produktif, tetapi untuk memperkuat cadangan devisa dan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah melalui intervensi. Dirinya mencontohkan, sepanjang periode 2014 hingga 2025 terdapat tiga episode tekanan besar terhadap rupiah. Episode pertama terjadi pada September 2014 hingga September 2015, ketika cadangan devisa turun USD9,44 miliar dan rupiah terdepresiasi sekitar 20 persen dari Rp12.185 menjadi Rp14.650 per dolar AS. Untuk menahan tekanan saat itu, pemerintah menerbitkan obligasi internasional melalui global bond dan Samurai bond senilai sekitar USD6,85 miliar. Tekanan kedua terjadi sepanjang Januari hingga Oktober 2018. Dalam periode itu cadangan devisa turun USD17,13 miliar, sementara rupiah melemah 13,5 persen dari Rp13.388 menjadi Rp15.202 per dolar AS.  Saat itu pemerintah kembali mengandalkan penerbitan utang luar negeri dengan total sekitar USD11,4 miliar untuk menjaga stabilitas pasar. Menurut Anthony, tekanan paling tajam terjadi saat awal pandemi Covid-19 pada 2020. Dalam satu bulan, cadangan devisa turun sekitar USD10,7 miliar dan rupiah melemah hampir 20 persen dari Rp13.675 menjadi Rp16.575 per dolar AS. “Tiga episode ini menyampaikan pesan yang sangat jelas, cadangan devisa yang besar tidak menjamin stabilitas rupiah. Yang menentukan rupiah adalah apakah aliran dana eksternal (utang) tetap masuk atau berhenti. Dengan kata lain, stabilitas rupiah tergantung dari apakah Indonesia masih bisa berutang terus,” ujarnya. Anthony juga menyoroti tren jangka panjang selama satu dekade terakhir. Meski cadangan devisa meningkat dari sekitar USD100 miliar pada 2014 menjadi sekitar USD150 miliar pada Februari 2026, rupiah justru melemah dari kisaran Rp12.000 menjadi Rp17.000 per dolar AS. Pada dua bulan pertama 2026, lanjut dia, cadangan devisa telah turun sekitar USD4,6 miliar meskipun pemerintah telah menarik utang luar negeri setara USD7,1 miliar dalam denominasi dolar, euro, dan yuan. Faktor eksternal seperti potensi konflik di Iran juga dapat mempercepat tekanan terhadap rupiah melalui kenaikan harga minyak, gangguan rantai pasok global, serta perpindahan modal dari emerging market ke aset safe haven. Halaman : 1 2 Your browser does not support the audio tag. LISTEN SHARE Follow Saluran Whatsapp IDX Channel untuk Update Berita Ekonomi Follow Follow Berita IDX Channel di Google News TAG: Nilai Tukar Rupiah Dolar AS Berpotensi melemah Rp20.400 per dolar AS Tim Editor Tangguh Yudha Reporter Nia Deviyana Editor Berita Rekomendasi Konflik Timur Tengah Kian Panas, Dolar Berbalik Menguat di Awal Pekan Berita Terkait Dolar Turun dari Puncak, Bank Sentral Global Makin Hawkish  20/03/2026 16:30 WIB Jumlah Pemudik Turun, Perputaran Uang Lebaran 2026 Diproyeksi Tembus Rp148 Triliun 20/03/2026 12:50 WIB Strategi BI Jaga Stabilitas Nilai Tukar Rupiah dari Dampak Perang Timur Tengah 17/03/2026 15:20 WIB Kementerian ESDM Umumkan Tarif Listrik Triwulan II-2026 Tidak Naik 17/03/2026 13:25 WIB Rupiah Masih di Jalur Pelemahan, Ditutup di Rp16.997 per Dolar AS 16/03/2026 15:42 WIB Tertekan Sentimen Timur Tengah, Rupiah Melemah Tembus Rp17 Ribu per Dolar AS 16/03/2026 14:53 WIB Berita Lainnya Menteri Energi AS Sebut Lonjakan Harga Minyak Belum Tekan Permintaan 24/03/2026 01:00 WIB Catat! One Way Nasional Arus Balik Digelar 24 Maret Pukul 14.00 WIB 23/03/2026 23:25 WIB Lonjakan Harga Minyak Bayangi Ekonomi AS, Gubernur Fed Stephen Miran Tetap Dukung Rate Cut 23/03/2026 23:00 WIB Penumpang Pesawat Tembus 4,4 Juta, Ini 5 Bandara Tersibuk Saat Mudik 2026 23/03/2026 22:15 WIB Kinerja TOWR Tumbuh di 2025, Laba Bersih Capai Rp3,68 Triliun 23/03/2026 21:45 WIB Arus Mudik Naik Kereta Cepat Meningkat, Penumpang Whoosh Tembus 185 Ribu Penumpang 23/03/2026 21:30 WIB Advertisement Advertisement Populer Berita Utama Begini Prediksi IHSG di Awal Pembukaan Perdagangan usai Libur Lebaran H+2 Lebaran, Harga Emas Antam (ANTM) Merosot Rp50 Ribu per Gram  Harga Minyak Berfluktuasi usai Tenggat Waktu 48 Jam yang Ditetapkan Trump untuk Iran Bursa Asia Anjlok, Ketegangan AS-Iran Picu Aksi Jual Aset Berisiko 40 Aset Kilang Rusak di Timur Tengah, IEA Wanti-wanti Krisis Energi Global Lonjakan Harga Minyak Bayangi Ekonomi AS, Gubernur Fed Stephen Miran Tetap Dukung Rate Cut Wall Street Dibuka Menguat Usai Trump Tunda Serangan ke Sektor Energi Iran Kinerja TOWR Tumbuh di 2025, Laba Bersih Capai Rp3,68 Triliun Rupiah Diproyeksi Bisa Tembus Rp20 Ribu per Dolar AS Imbas Perang Timur Tengah Ada THR Dividen dari 3 Emiten, Cair Usai Lebaran Download Aplikasi IDX Channel Network Okezone Sindonews iNews MNC Trijay

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *