Pemerintah Dinilai Defensif Respons Lembaga Rating, Investor Butuh Roadmap Reformasi Nyata Get SindoNews App Baca berita lebih mudah Scan QR Code untuk download aplikasi: Log in Home Makro Bursa Finansial Sektor Riil Indeks Home Makro Bursa Finansial Sektor Riil Indeks Log in Kanal Beranda Nasional Internasional Daerah Lifestyle Sports Ekonomi Bisnis Teknologi Otomotif Edukasi Kalam Multimedia SINDOnews TV Indeks Today’s HI-LITE More SindoScope More Live TV RCTI GTV MNC TV iNews Radio Live MNC Trijaya Global Radio V Radio RDI MNC Networks RCTI+ Vision+ MotionPay Motion Life Motion Trade Motion Banking Mister Aladin Home Bursa Finansial Pemerintah Dinilai Defensif Respons Lembaga Rating, Investor Butuh Roadmap Reformasi Nyata Anto Kurniawan Senin, 02 Maret 2026 – 10:28 WIBloading… Pasar bukan hanya menilai angka makro. Mereka menilai kredibilitas, konsistensi, dan arah kebijakan. Jika komunikasi hanya bersifat reaktif pasca-peringatan, ruang ketidakpastian tetap terbuka. Foto/Dok A A A JAKARTA – Respons Pemerintah Indonesia terhadap peringatan dari sejumlah lembaga pemeringkat global seperti S&P, Moody’s, hingga MSCI menuai kritik. Meski bergerak cepat memberikan klarifikasi, sikap pemerintah dianggap masih terlalu normatif dan defensif, alih-alih menawarkan terobosan reformasi struktural yang baru.Analis Ekonomi Politik Pasar Saham, Kusfiardi menilai bahwa narasi yang dibangun pemerintah saat ini lebih banyak berfokus pada pembelaan atas fundamental makroekonomi yang ada. Baca Juga: Bos Danantara Temui Pimpinan Moody’s, Coba Yakinkan Ketahanan Ekonomi RI “Respons itu lebih bersifat pembelaan terhadap fundamental makro, bukan penyampaian roadmap reformasi struktural yang benar-benar baru dan terukur,” ujar Kusfiardi dalam keterangannya di Jakarta, Senin (2/3/2026).Pemerintah menekankan bahwa fundamental ekonomi nasional tetap kuat, defisit fiskal terkendali, serta pertumbuhan ekonomi menunjukkan akselerasi. Hal itu menunjukkan upaya stabilisasi cepat, namun masih menyisakan pertanyaan mengenai kredibilitas reformasi struktural jangka panjang.Pemerintah melalui berbagai forum, termasuk agenda “Indonesia Economic Outlook” Februari 2026, menegaskan komitmen menjaga defisit di bawah 3% PDB, memperbaiki struktur pasar modal melalui peningkatan free float, serta memperkuat peran sovereign wealth fund Danantara. Halaman :123 Lihat Juga : IHSG Ambruk 1,88% saat Timur Tengah Membara, 664 Saham Memerah Perang Iran vs AS-Israel, Ini Imbasnya ke Kantong Warga RI Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari Follow Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga! lembaga pemeringkat internasional ekonomi indonesia bursa saham moody’s ratings index global msci Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya Berita Terkait IHSG Ambruk 1,88% saat Timur Tengah Membara, 664 Saham Memerah Perang Iran vs AS-Israel, Ini Imbasnya ke Kantong Warga RI IHSG Sepekan Terkoreksi 0,44%, Kapitalisasi Pasar Menyusut Jadi Rp14.787 T IHSG Berjuang Bertahan di Zona Hijau, Hari Ini Berakhir Naik Tipis 0,23% Bos Danantara Temui Pimpinan Moody’s, Coba Yakinkan Ketahanan Ekonomi RI IHSG Memerah Lagi usai Kehilangan 1,04 Persen, Transaksi Cetak Rp27,6 Triliun Suku Bunga Tinggi, Stabilitas Terjaga tapi Ekonomi Tertahan Gandeng IPB Rancang Cetak Biru, Kemenhaj Bidik Potensi Raksasa Ekosistem Ekonomi Haji Prabowo Subianto Hadiri Indonesia Economic Outlook 2026, Tegaskan Ketahanan Ekonomi Nasional Rekomendasi Produksi Smartphone Global Diperkirakan Menurun Hampir 13% pada Tahun 2026 Gugatan Hasto soal Obstruction of Justice Tak Diterima MK Hari Ini Ahok Jadi Saksi Sidang Kasus Dugaan Korupsi LNG Selengkapnya Hari Ini Ahok Jadi Saksi Sidang Kasus Dugaan Korupsi LNG Jenazah Try Sutrisno Tiba di Rumah Duka di Menteng Muhammadiyah Tetapkan Lebaran 2026 pada Jumat 20 Maret Berita Terkini Selengkapnya THR Lebaran, Bibit.id Ajak Masyarakat Jadikan Momentum Wujudkan Mimpi Data BPS Ungkap Inflasi Februari 2026 Sentuh 0,68 Persen, Ini Sebabnya Nilai Ekspor RI di Januari 2026 Capai USD22,16 Miliar, Naik 3,39 Persen 3 Negara Penyumbang Terbesar Surplus Neraca Dagang RI, Januari 2026 Sentuh USD0,95 Miliar Serangan AS-Israel ke Iran Picu Pelemahan 675 Emiten, Dirut BEI Imbau Investor Rasional IHSG Ambruk 1,88% saat Timur Tengah Membara, 664 Saham Memerah Selengkapnya Polemik Alumni LPDP, Perlukah Sistem Seleksi Dievaluasi? Belajar dari Bencana Sumatera Terpopuler 1 Iran Punya Cadangan Minyak Melimpah, Terbesar ke-3 Dunia setelah Venezuela 2 Bandara Tersibuk di Dunia Rusak usai Iran Luncurkan Aksi Balasan, Ribuan Penumpang Terlantar 3 Utang Amerika Bengkak jadi Rp635.572 Triliun, IMF: Ekonomi Global dalam Bahaya 4 Iran Tutup Selat Hormuz, Jalur Minyak Dunia Terancam Lumpuh 5 Perang Iran vs AS-Israel, Ini Imbasnya ke Kantong Warga RI Infografis AS Butuh Rp15.919 Triliun untuk Memodernisasi Senjata Nuklirnya Shares Selengkapnya Kanal Nasional Daerah Lifestyle Ekonomi Bisnis Teknologi Edukasi Multimedia Internasional Sports Otomotif Kalam Hi-Lite Sindoscope MNC Portal Okezone.com iNews.id IDX Channel About Us Tentang Kami Redaksi Privacy Policy Kode Etik Sitemap Disclaimer Term of Service Kontak Kami Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved
Pemerintah Dinilai Defensif Respons Lembaga Rating, Investor Butuh Roadmap Reformasi Nyata
