Review Film: Sinners

Review Film: Sinners login register logout For You Nasional Politik Hukum & Kriminal Peristiwa Pemilu Info Politik BERITA TERBARU Internasional Asean Asia Pasifik Timur Tengah Eropa Amerika BERITA TERBARU Ekonomi Keuangan Energi Bisnis Makro Corporate Action BERITA TERBARU Olahraga Sepakbola Moto GP F1 Raket BERITA TERBARU Teknologi Teknologi Informasi Sains Telekomunikasi Climate BERITA TERBARU Otomotif Tren Mobil Motor E-Vehicle Commercial Info Otomotif BERITA TERBARU Hiburan Film Musik Seleb Seni Budaya Music At Newsroom BERITA TERBARU Gaya Hidup Health Food Travel Trends BERITA TERBARU CNN TV Ragam Foto Video Infografis Indeks Fokus Kolom Terpopuler Features Search History Loading… Hiburan Film Review Film: Sinners Endro Priherdityo | CNN Indonesia Jumat, 13 Feb 2026 20:15 WIB Bagikan: url telah tercopy Review film: Sinners menjadi panggung pembuktian Ryan Coogler dalam meracik sejarah kelam masyarakat kulit hitam dengan elemen horor vampir yang tak lazim. (Warner Bros. Pictures via IMDb) Endro Priherdityo 4 Sinners menjadi panggung pembuktian Ryan Coogler dalam meracik sejarah kelam masyarakat kulit hitam dengan elemen horor vampir yang tak lazim. Jakarta, CNN Indonesia — Keputusan Ryan Coogler mengombinasikan kisah sejarah, budaya masyarakat kulit hitam, musik, agama, dengan horor terutama vampir dalam Sinners memang tidak konvensional.Dengan racikan tersebut, Sinners sebenarnya terasa sangat spesifik untuk golongan tertentu atau mungkin ceritanya akan tidak akan bisa dimengerti oleh sebagian orang.Lihat Juga :Sinopsis Sinners, Teror Vampir Serang Bisnis Saudara Kembar ADVERTISEMENT SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Di sisi lain, Sinners menunjukkan seberapa cerdas seorang Coogler. Meracik cerita yang bila hanya pada taraf gagasan itu terasa absurd, tetapi bisa dieksekusi menjadi tontonan yang baru tapi terasa akrab.Coogler memulai Sinners dengan bobot sejarah dan budaya masyarakat kulit hitam dengan cukup kental. Ia membawa penonton ke zaman bahkan ketika Indonesia belum berdiri, tetapi rasialisme sudah kental di Amerika Serikat. Era segregasi rasial Hukum Jim Crow yang kencang pada masa itu jelas menjadi latar yang sangat pas untuk menguatkan visi Coogler yang kental akan budaya masyarakat kulit hitam.Coogler menempatkan narasi ‘berat’ soal masyarakat kulit hitam pada masa itu lewat perjalanan Samuel ‘Sammie’ Moore alias Preacherboy yang tertarik untuk bermain musik di bisnis sepupunya, si kembar Smokestack.Peran si kembar Smokestack yang dimainkan dengan brilian oleh Michael B Jordan bukan hanya sebagai hero dalam film ini, tetapi juga membawakan sedikit latar budaya juga sejarah pada masa itu.Pembagian ini memungkinkan Coogler dengan mulus mengisahkan cerita masa lalu masyarakat kulit hitam dengan segala unsurnya, sejarah, musik, budaya, hingga problematika sosial dan personal.Semuanya tersaji dengan santai, ringan, tapi tetap mengena dan memastikan penonton paham betul akan kondisi sosial-politik-budaya yang terjadi pada masa itu.Review Film Sinners (2025): Sinners menunjukkan seberapa cerdas seorang Ryan Coogler. Meracik cerita yang bila hanya pada taraf gagasan terasa absurd, tetapi bisa dieksekusi menjadi tontonan yang baru tapi terasa akrab. (Warner Bros. Pictures via IMDb)Hanya saja, Coogler memang tidak memberikan cukup banyak segregasi rasial yang kentara di masyarakat secara umum seperti pada Hidden Figures (2016) atau Green Book (2018).Coogler lebih memilih menempatkan segregasi tersebut pada kisah yang ekstrem dengan membawa Ku Klux Klan sebagai villain dan menyandingkannya dengan vampir. Pada saat transisi inilah, Coogler terasa kurang mulus dalam meracik cerita.REVIEW FILM NOMINE OSCAR 2026Review Film: It Was Just an AccidentReview Film: KPop Demon HuntersReview Film: Zootopia 2Review Film: Avatar – Fire and AshReview Film: The Secret AgentReview Film: Sentimental ValueMenyandingkan vampir dengan KKK mungkin terasa sebagai gagasan yang unik dan segar. Apalagi keduanya sama-sama “berkulit pucat” dan mengintimidasi calon korbannya dengan kekuatan yang mereka punya.Hanya saja, racikan bagian konflik yang mempertemukan kelompok kulit hitam dengan kubu villain ini seolah mengubah film ini yang semula dimulai dengan ‘berkelas’ menjadi film popcorn pada umumnya.Sebenarnya penurunan itu bisa dipahami sebagai cara agar penonton tetap terjaga dan bertahan hingga akhir durasi seperti yang dilakukan film popcorn lainnya. Beruntungnya, meski saat transisi terasa ganjil, Coogler bisa memandu cerita dengan mulus setelahnya hingga akhir.Meski cerita Sinners mungkin terasa ganjil bagi sebagian orang, sajian visual dari kamera Autumn Durald Arkapaw selaku sinematografer, hasil editing Michael P. Shawver, orkestrasi suara dari Ludwig Göransson bisa dibilang bagian film yang sepenuhnya mulus.Selain itu, desain produksi, riasan, juga kostum yang digunakan sudah sangat mendukung cerita Ryan Coogler dan memperkuat unsur kultural dalam Sinners serta membawa penonton kembali ke masa hampir seratus tahun lalu.Bagian lainnya yang menjadi kekuatan dari Sinners adalah performa Michael B Jordan. Memerankan karakter kembar bukan hanya memainkan peran dua kali, tetapi yang sulit adalah memisahkan sifat karakter tersebut dengan segala ceritanya.Review Film Sinners (2025): Sinners bisa menjadi salah satu film yang patut untuk ditonton bila ingin melihat Michael B Jordan dan penampilan aktingnya yang prima. (Warner Bros. Pictures via IMDb)Kerja keras Jordan dalam Sinners jelas terbayarkan. Penampilannya dalam film ini mempertebal catatan kualitas aktingnya. Bukan hanya itu, film ini menegaskan alasan ia layak pernah menyandang Sexiest Man Alive pada 2020.Yang jelas, Sinners bisa menjadi salah satu film yang patut untuk ditonton bila ingin melihat Michael B Jordan dan penampilan aktingnya yang prima. Tak mengherankan bila ia menjadi salah satu kandidat kuat untuk menerima piala Best Actor dalam berbagai ajang penghargaan film.Bukan cuma itu, Sinners juga jadi bukti keluwesan Ryan Coogler dalam menyajikan tayangan genre-hybrid, tanpa kehilangan visinya untuk mengisahkan cerita juga budaya masyarakat kulit hitam.Meski sempat goyah di tengah, Coogler setidaknya sukses membawakan sejarah masyarakat kulit hitam dengan megah, indah, sekaligus menghibur dalam perspektif industri layar lebar.[Gambas:Youtube] (end) [Gambas:Video CNN] Bagikan: url telah tercopy TOPIK TERKAIT review film sinners oscar 2026 film ARTIKEL TERKAIT Perdana, Upin & Ipin Ungkap Rupa Orang Tua dalam Tayangan Spesial Sinopsis The Tourist, Bioskop Trans TV 13 Februari 2026 5 Rekomendasi Film Akhir Pekan, Wuthering Heights hingga Goat Michelle Yeoh Buka Berlinale 2026 dengan Pidato Emosional Showrunner Beber Nasib Lady Danbury setelah Bridgerton Season 4 Signal 2 Dicoret dari Daftar Tayang 2026 Imbas Skandal Cho Jin-woong REKOMENDASI UNTUKMU LIHAT SEMUA LIHAT SEMUA LAINNYA DI DETIKNETWORK LIVE REPORT LIHAT SELENGKAPNYA TERPOPULER Menyajikan berita terhangat langsung melalui handphone Anda DOWNLOAD SEKARANG TELU

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *