Meski 4 Tahun di Sanksi AS, Ekspor Minyak Rusia Lampaui Level Sebelum Perang

Meski 4 Tahun di Sanksi AS, Ekspor Minyak Rusia Lampaui Level Sebelum Perang   Get SindoNews App Baca berita lebih mudah Scan QR Code untuk download aplikasi: Log in     Home Makro Bursa Finansial Sektor Riil Indeks Home Makro Bursa Finansial Sektor Riil Indeks   Log in     Kanal Beranda Nasional Internasional Daerah Lifestyle Sports Ekonomi Bisnis Teknologi Otomotif Edukasi Kalam Multimedia SINDOnews TV Indeks Today’s HI-LITE More SindoScope More Live TV RCTI GTV MNC TV iNews Radio Live MNC Trijaya Global Radio V Radio RDI MNC Networks RCTI+ Vision+ MotionPay Motion Life Motion Trade Motion Banking Mister Aladin Home Makro Meski 4 Tahun di Sanksi AS, Ekspor Minyak Rusia Lampaui Level Sebelum Perang Nanang Wijayanto Selasa, 24 Februari 2026 – 12:53 WIBloading… Sebuah kapal tanker minyak berlabuh di fasilitas penerimaan di Pelabuhan Zhoushan, Provinsi Zhejiang, China Timur. FOTO/cnsphoto A A A JAKARTA – Volume ekspor minyak mentah Rusia dilaporkan tetap bertahan di atas level sebelum invasi ke Ukraina, meskipun Moskow menghadapi tekanan sanksi internasional yang masif selama empat tahun terakhir. Laporan terbaru dari Centre for Research on Energy and Clean Air (CREA) menunjukkan bahwa strategi pengalihan rute perdagangan dan penggunaan armada kapal tanker ilegal efektif menjaga aliran fisik energi Rusia ke pasar global.”Langkah penegakan baru telah menghasilkan penurunan pendapatan yang cukup besar dari ekspor bahan bakar fosil Rusia, namun masih ada celah dan area yang belum ditangani oleh negara-negara pemberi sanksi,” kata analis CREA, Isaac Levi, dikutip Franc24, Selasa (24/2/2026).Baca Juga: India Mundur, Impor Minyak Rusia ke China Pecah Rekor Tembus 2 Juta Barel per Hari Data CREA menyebutkan volume ekspor minyak mentah Rusia dalam 12 bulan terakhir mencapai 215 juta ton, atau enam persen lebih tinggi dibandingkan periode sebelum invasi. Meski volume meningkat, pendapatan Moskow justru terkoreksi 18% secara tahunan menjadi 85,5 miliar euro akibat kebijakan diskon besar-besaran untuk menarik pembeli di luar blok Barat.Fenomena ini mengungkap paradoks dalam kebijakan sanksi energi yang digagas negara-negara G7 dan Uni Eropa. Meski berhasil menekan harga jual dan menurunkan pendapatan anggaran minyak dan gas Rusia hingga 24% pada 2025, mekanisme batas harga (price cap) gagal membatasi mobilitas fisik barel-barel minyak Rusia di laut lepas.Kunci ketahanan ekspor Rusia terletak pada pengoperasian armada bayangan (shadow fleet) yang terdiri dari kapal-kapal tanker tua dengan kepemilikan transparan. Per Januari 2026, hampir separuh dari total ekspor minyak laut Rusia diangkut oleh kapal-kapal yang mengelakkan protokol asuransi dan pengiriman Barat, sementara hanya 24% yang masih berafiliasi dengan negara anggota G7. Halaman :12 Lihat Juga : Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, India Tunda Kunjungan Dagang ke Washington Haikal Hasan Pastikan Produk AS Masuk Indonesia Wajib Berlabel Halal Follow WhatsApp Channel SINDOnews untuk Berita Terbaru Setiap Hari Follow Dapatkan berita terkini dan kejutan menarik dari SINDOnews.com, Klik Disini untuk mendaftarkan diri anda sekarang juga! sanksi barat rusia amerika serikat minyak mentah ekspor Lanjut Baca Berita Terkait Lainnya Berita Terkait Mahkamah Agung AS Batalkan Tarif Trump, India Tunda Kunjungan Dagang ke Washington Haikal Hasan Pastikan Produk AS Masuk Indonesia Wajib Berlabel Halal Kekacauan Tarif Trump, Dolar AS Babak Belur di Pasar Asia Industri Tekstil Kurang Happy dengan Tarif Ekspor 0% ke AS, Ini Alasannya Tak Hanya Beras Ribuan Ton, Indonesia Setujui Impor 580.000 Ekor Ayam dari AS Dicampur ke BBM, Bahlil Buka Peluang Impor Etanol dari AS Unit Penyimpanan Rahasia Epstein Masih Belum Digeledah Kedaulatan Indonesia di Tengah Badai ‘America First’ Rusia Ungkap Inggris dan Prancis Bersiap Persenjatai Ukraina dengan Senjata Nuklir Rekomendasi Terungkap 3 Keluhan Warga soal Lapangan Padel: Parkir, Kebisingan, dan Jam Operasional Proyek Flyover Latumenten Bikin Macet, DPRD Minta Dishub DKI Lakukan Pengaturan Lalin Dokter Tifa Minta Pria Berkumis dan Berkacamata di Foto Ijazah Jokowi yang Diunggah Dian Sandi Dicari Selengkapnya Pemprov DKI Larang Pembangunan Lapangan Padel Baru di Perumahan Gus Yaqut Hadiri Sidang Praperadilan di PN Jaksel 6.859 Masjid Disiapkan Jadi Tempat Transit Pemudik 2026 Berita Terkini Selengkapnya Said Iqbal Ungkap Potensi PHK di Balik Impor 105 Ribu Pikap India Negosiasi RI-AS Disambut Pelaku Usaha Mamin, Kunci Keberlanjutan Industri dan Daya Saing Ekspor Rupiah Keok di Rp16.829/USD saat Pemerintah Tarik Utang Baru Rp127,3 Triliun Serikat Pekerja Teriak Desak Impor 105.000 Pikap Kopdes Merah Putih Dibatalkan Pertamina Patra Niaga Semarakkan Ramadan dengan Berbagi Takjil dan Layanan SPBU Bernuansa Religi Dukung Angkutan Lebaran, KAI Logistik Kirim 12 Lokomotif ke Jawa Selengkapnya Belajar dari Bencana Sumatera Sisi Gelap Game Online Intai Pelajar Terpopuler 1 Tak Hanya Beras Ribuan Ton, Indonesia Setujui Impor 580.000 Ekor Ayam dari AS 2 Impor 105.000 Pikap Kopdes Merah Putih Dicicil Pakai Dana Desa, Purbaya Buka Suara 3 Bos Agrinas Jawab Desakan Dasco soal Impor 105.000 Pikap: Kami Taat Perintah 4 Itung-itungan Risiko Utang Whoosh, Balik Modal Bisa Sampai 100 Tahun 5 Bangkai Mobil India Hantui Desa, Kadin dan Dasco Coba Tunda Impor 105.000 Pikap Agrinas Infografis 6 Alasan Ribuan Narapidana Masuk Islam di Penjara AS Setiap Tahun Shares Selengkapnya Kanal Nasional Daerah Lifestyle Ekonomi Bisnis Teknologi Edukasi Multimedia   Internasional Sports Otomotif Kalam Hi-Lite Sindoscope MNC Portal Okezone.com iNews.id IDX Channel About Us Tentang Kami Redaksi Privacy Policy Kode Etik Sitemap Disclaimer Term of Service Kontak Kami Copyright ©2026 SINDOnews.com All Rights Reserved

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *