Harga Minyak Anjlok 6% Usai Trump Ramal Perang Timteng Segera Mereda

Harga Minyak Anjlok 6% Usai Trump Ramal Perang Timteng Segera Mereda login register logout For You Nasional Politik Hukum & Kriminal Peristiwa Pemilu Info Politik BERITA TERBARU Internasional Asean Asia Pasifik Timur Tengah Eropa Amerika BERITA TERBARU Ekonomi Keuangan Energi Bisnis Makro Corporate Action BERITA TERBARU Olahraga Sepakbola Moto GP F1 Raket BERITA TERBARU Teknologi Teknologi Informasi Sains Telekomunikasi Climate BERITA TERBARU Otomotif Tren Mobil Motor E-Vehicle Commercial Info Otomotif BERITA TERBARU Hiburan Film Musik Seleb Seni Budaya Music At Newsroom BERITA TERBARU Gaya Hidup Health Food Travel Trends BERITA TERBARU CNN TV Ragam Foto Video Infografis Indeks Fokus Kolom Terpopuler Features Search History Loading… Ekonomi Energi Harga Minyak Anjlok 6% Usai Trump Ramal Perang Timteng Segera Mereda CNN Indonesia Selasa, 10 Mar 2026 09:50 WIB Bagikan: url telah tercopy Analis memperkirakan harga minyak akan tetap bergerak sangat volatile dalam waktu dekat. Ilustrasi (via REUTERS/Majid Asgaripour). Jakarta, CNN Indonesia — Harga minyak dunia anjlok lebih dari 6 persen pada perdagangan Selasa (10/3), setelah sebelumnya sempat melonjak ke level tertinggi dalam lebih dari tiga tahun. Hal ini terjadi setelah Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump memprediksi konflik di Timur Tengah akan segera mereda, sehingga kekhawatiran pasar terhadap gangguan pasokan minyak global mulai berkurang.Mengutip Reuters, harga minyak mentah Brent turun US$6,51 atau 6,6 persen menjadi US$92,45 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) AS merosot US$6,12 atau 6,5 persen ke level US$88,65 per barel.Sehari sebelumnya, harga minyak sempat melonjak melampaui US$100 per barel. Brent bahkan menyentuh level tertinggi sesi di US$119,50 per barel, sementara WTI mencapai US$119,48 per barel, level tertinggi sejak pertengahan 2022. ADVERTISEMENT SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Lonjakan harga tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan besar pasokan minyak global di tengah meluasnya konflik antara Amerika Serikat-Israel, dan Iran. Ketegangan tersebut juga mendorong sejumlah produsen minyak Timur Tengah memangkas produksi.Lihat Juga :IRGC Iran Respons Klaim Trump: Perang Selesai Tergantung Kami! Namun, harga kemudian terkoreksi setelah Presiden Rusia Vladimir Putin melakukan percakapan dengan Trump dan menyampaikan sejumlah proposal yang bertujuan mempercepat penyelesaian konflik dengan Iran.Trump dalam wawancara dengan CBS News menyatakan konflik dengan Iran kemungkinan akan segera berakhir dan perkembangan situasi berjalan lebih cepat dari perkiraan awal.”Saya pikir perang melawan Iran hampir selesai dan kami jauh lebih cepat dari perkiraan empat hingga lima minggu sebelumnya,” ujar Trump.Meski demikian, ketegangan geopolitik masih membayangi pasar energi. Garda Revolusi Iran menyatakan pihaknya akan menentukan akhir dari perang tersebut dan memperingatkan bahwa Teheran tidak akan mengizinkan ekspor minyak dari kawasan jika serangan AS dan Israel terus berlanjut. Di sisi lain, tekanan terhadap harga minyak juga datang dari rencana pemerintah AS yang mempertimbangkan pelonggaran sanksi minyak terhadap Rusia serta pelepasan cadangan minyak darurat untuk meredam lonjakan harga energi global.Analis pasar IG Tony Sycamore memperkirakan harga minyak akan tetap bergerak sangat volatil dalam waktu dekat.”Melihat perkembangan dalam 24 jam terakhir, saya memperkirakan harga minyak akan tetap sangat fluktuatif dan diperdagangkan dalam kisaran luas antara sekitar US$75 hingga US$105 per barel,” ujarnya.Sementara itu, produsen minyak di kawasan Teluk mulai memangkas produksi akibat terganggunya jalur pengiriman di tengah konflik regional.Irak dilaporkan memangkas produksi di ladang minyak utama di wilayah selatan hingga sekitar 70 persen menjadi sekitar 1,3 juta barel per hari. Langkah serupa juga dilakukan oleh perusahaan energi negara Kuwait yang mulai mengurangi produksi dan menyatakan force majeure.Arab Saudi juga dilaporkan mulai memangkas produksi minyaknya sebagai respons terhadap situasi geopolitik yang memicu gangguan distribusi energi di kawasan.Di tengah ketidakpastian tersebut, negara-negara anggota Group of Seven (G7) menyatakan siap mengambil langkah-langkah yang diperlukan untuk merespons lonjakan harga minyak global. Namun mereka belum berkomitmen untuk segera melepas cadangan minyak darurat.[Gambas:Video CNN] (ldy/ins) Bagikan: url telah tercopy TOPIK TERKAIT donald trump trump harga minyak anjlok konflik timur tengah brent wti produksi minyak ARTIKEL TERKAIT Membredel Dampak Lonjakan Harga Minyak di Atas US$100/Barel ke RI Harga Minyak Dunia Naik Gila-gilaan di Tengah Perang Iran vs AS-Israel Bahlil Jamin Harga Pertalite dan Solar Tak Naik Sampai Lebaran Harga Minyak Jebol ke US$100 per Barel Tertinggi Sejak Juli 2022 Kuwait Setop Produksi, Qatar Ramal Harga Minyak US$150 per Barel Sah, Harga Minyak Dunia Resmi Tembus US$100 per Barel REKOMENDASI UNTUKMU LIHAT SEMUA LIHAT SEMUA LAINNYA DI DETIKNETWORK LIVE REPORT LIHAT SELENGKAPNYA TERPOPULER Menyajikan berita terhangat langsung melalui handphone Anda DOWNLOAD SEKARANG TELUSURI Nasional Internasional Ekonomi Olahraga Teknologi Otomotif Hiburan Gaya Hidup berbuatbaik.id CNN TV IKUTI KAMI © 2026 Trans Media, CNN name, logo and all associated elements (R) and © 2026 Cable News Network, Inc. A Time Warner Company. All rights reserved. CNN and the CNN logo are registered marks of Cable News Network, Inc., displayed with permission. Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber | Karir | Disclaimer CNN U.S. | CNN International | CNN en ESPAÑOL | CNN Chile CNN México | العربية | 日本語 | Türkçe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *