Kuwait Setop Produksi, Qatar Ramal Harga Minyak US$150 per Barel

Kuwait Setop Produksi, Qatar Ramal Harga Minyak US$150 per Barel login register logout For You Nasional Politik Hukum & Kriminal Peristiwa Pemilu Info Politik BERITA TERBARU Internasional Asean Asia Pasifik Timur Tengah Eropa Amerika BERITA TERBARU Ekonomi Keuangan Energi Bisnis Makro Corporate Action BERITA TERBARU Olahraga Sepakbola Moto GP F1 Raket BERITA TERBARU Teknologi Teknologi Informasi Sains Telekomunikasi Climate BERITA TERBARU Otomotif Tren Mobil Motor E-Vehicle Commercial Info Otomotif BERITA TERBARU Hiburan Film Musik Seleb Seni Budaya Music At Newsroom BERITA TERBARU Gaya Hidup Health Food Travel Trends BERITA TERBARU CNN TV Ragam Foto Video Infografis Indeks Fokus Kolom Terpopuler Features Search History Loading… Ekonomi Energi Kuwait Setop Produksi, Qatar Ramal Harga Minyak US$150 per Barel CNN Indonesia Senin, 09 Mar 2026 07:30 WIB Bagikan: url telah tercopy Kuwait mulai menghentikan produksi di beberapa ladang minyak, karena tak lagi memiliki tempat menyimpan pasokan minyak selama Selat Hormuz masih lumpuh total. Ilustrasi (REUTERS/Dado Ruvic). Jakarta, CNN Indonesia — Menteri Energi Qatar Saad al-Kaabi memproyeksi harga minyak mentah dunia terus melanjutkan kenaikan menuju level US$150 per barel dalam hitungan dua hingga tiga minggu ke depan. Potensi tersebut sangat mungkin terjadi jika Selat Hormuz tetap tertutup bagi kapal tanker,Pernyataan al-Kaabi kepada Financial Times dalam sebuah wawancara yang dirilis Jumat (6/3) tersebut muncul hanya beberapa jam sebelum adanya laporan bahwa Kuwait, salah satu anggota pendiri OPEC itu telah mulai menghentikan produksi di beberapa ladang minyak.Hal tersebut dilakukan karena Kuwait tak lagi memiliki tempat untuk menyimpan pasokan minyak selama lalu lintas di Selat Hormuz masih lumpuh total. Menurut sumber yang mengetahui masalah tersebut, Kuwait juga sedang mendiskusikan pemotongan produksi lebih lanjut, termasuk operasi penyulingan, ke tingkat yang hanya mencukupi kebutuhan domestik. ADVERTISEMENT SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT Hingga saat ini, besarnya penghentian produksi di Kuwait belum dikuantifikasi secara pasti sebagaimana dikutip dari Oilprice, Senin (9/3).Lihat Juga :Sah, Harga Minyak Dunia Resmi Tembus US$100 per Barel Pria yang juga Presiden dan CEO Qatar Energy tersebut mengungkapkan bahwa semua eksportir minyak dan gas utama di Timur Tengah saat ini sedang bersiap menyatakan force majeure (keadaan memaksa) pada ekspor mereka dalam hitungan hari. Itu dilakukan jika jalur pelayaran vital yakni Selat Hormuz secara de facto tetap tertutup bagi lalu lintas kapal tanker.Awal pekan ini, perusahaan energi negara Qatar telah menghentikan produksi LNG di pusat Ras Laffan, kompleks LNG terbesar di dunia, dan kemudian mengeluarkan pemberitahuan force majeure kepada para pembeli.Langkah itu diambil menyusul serangan pesawat nirawak di fasilitas tersebut, serta hampir terhentinya lalu lintas kapal tanker melalui Selat Hormuz.Lalu lintas kapal melalui Selat Hormuz telah merosot dari rata-rata 138 kapal per hari, menjadi hanya dua kapal dalam 24 jam terakhir hingga Kamis (5/3), menurut laporan Joint Maritime Information Center. Pusat informasi tersebut mencatat bahwa kedua kapal yang berhasil melewati selat itu bukanlah kapal tanker. Saat ini, terdapat puluhan kapal tanker yang terdampar di dekat Hormuz, beberapa di antaranya telah menjadi target serangan, dan perusahaan asuransi telah mencabut perlindungan asuransi perang.Kondisi tersebutturut berkontribusi pada kelumpuhan perdagangan energi di wilayah penghasil minyak terbesar di dunia tersebut. Di sisi lain,Presiden AS mengumumkan bahwa pemerintah federal akan turun tangan untuk memberikan asuransi, namun hingga saat ini belum membuahkan hasil.”Kami memperkirakan semua pihak yang belum menyatakan force majeure akan melakukannya dalam beberapa hari ke depan jika situasi ini terus berlanjut. Semua eksportir di kawasan Teluk harus menyatakan force majeure,” kata al-Kaabi kepada Financial Times.Pejabat tersebut juga memprediksi bahwa jika perang berlanjut selama beberapa minggu, pertumbuhan ekonomi global akan sangat terdampak. Namun, jika perang berakhir hari ini, al-Kaabi menyebut Qatar kemungkinan akan membutuhkan waktu”berminggu-minggu hingga berbulan-bulan” untuk kembali ke jadwal dan siklus pengiriman energi yang normal.[Gambas:Video CNN] (ins) Bagikan: url telah tercopy TOPIK TERKAIT harga minyak qatar kuwait opec selat hormuz produksi minyak force majeure energi pasar minyak konflik timur tengah ARTIKEL TERKAIT Sah, Harga Minyak Dunia Resmi Tembus US$100 per Barel Prediksi ESDM soal Target Lifting Migas 900 bph di 2029 Terus Ngegas, Harga Minyak Dunia Tembus US$92 per Barel Pemerintah Bakal Siapkan Cadangan BBM RI Jadi 90 Hari Lewat Cara Ini Harga Minyak Turun ke US$84,27 Usai Enam Hari Beruntun Ngegas Trump: Perang Iran Lebih Penting Ketimbang Kenaikan Sedikit Harga BBM REKOMENDASI UNTUKMU LIHAT SEMUA LIHAT SEMUA LAINNYA DI DETIKNETWORK LIVE REPORT LIHAT SELENGKAPNYA TERPOPULER Menyajikan berita terhangat langsung melalui handphone Anda DOWNLOAD SEKARANG TELUSURI Nasional Internasional Ekonomi Olahraga Teknologi Otomotif Hiburan Gaya Hidup berbuatbaik.id CNN TV IKUTI KAMI © 2026 Trans Media, CNN name, logo and all associated elements (R) and © 2026 Cable News Network, Inc. A Time Warner Company. All rights reserved. CNN and the CNN logo are registered marks of Cable News Network, Inc., displayed with permission. Tentang Kami | Redaksi | Pedoman Media Siber | Karir | Disclaimer CNN U.S. | CNN International | CNN en ESPAÑOL | CNN Chile CNN México | العربية | 日本語 | Türkçe

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *